Inilah Diriku dengan Segala Keterbatasannya. Dan Kau Mungkin Tak Akan Pernah Menyangkanya
When I was 26
Juanda, December 2010.
A: Hmm.. Boleh aku tanya sesuatu? I: Tanya apa? A: Umurmu berapa? I: Hmm…. coba tebak. A: 30? I: He ehm.. A: 29? I: Yap (smile) A: Hmm… aku 26 (smile) I: Waaw… you’re still young… (sweetest smile) A: :)
When I was 26, you’re 29, I love you. Today, I’m 27, and I’m still loving you. Hope this love belong to Allah The Great Subhanahu Wa Ta’ala. Allahumma amin.
Whenever I’m alone with you You make me feel like I am home again Whenever I’m alone with you You make me feel like I am whole again
However far away, I will always love you However long I stay, I will always love you Whatever words I say, I will always love you I will always love you
Allah tlah mempertemukan kita di tempat itu, dan sepertinya di tempat itu pula lah Allah memisahkan kita. Semoga perpisahan ini dilandasi karena cinta kepadaNYA. Maafkan aku bila tlah menyakitimu, karena ku tidak bermaksud seperti itu. Terima kasih atas semua kasih dan sayang yang engkau berikan selama ini. Sungguh aku bahagia bisa mengenal dan menyayangimu. Mungkin saat itu adalah saat terakhir kita bertemu di dunia ini.
Theres a HELL in HELL-O. Theres a GOOD in GOOD-BYE. That’s why you shouldn’t be afraid of Goodbye but careful with the Hello.
Satu hal yang pasti, bahwa ku sungguh menyayangimu. Sungguh ku menyayangimu.
Selamat tinggal saudaraku… Cintailah aku karena Allah, dan tinggalkanlah aku karena Allah. Semoga Dia menyatukan kita di jannahNYA kelak. Allahumma amin.